Friday, February 10, 2012

Cerpen Persahabatan Sejati Terbaru - HEMOFILIA

Cerpen Persahabatan Sejati Terbaru - Seperti  biasanya saya akan mengenalkan postingan saya sebelumnya yakni Cerpen Lucu dan Cerpen Islam, kali ini saya akan Share Cerpen Persahabatan Sejati dengan judul Hemofilia kiriman dari sahabat Sisca Ainun Nissa, memang hidup didunia ini takkan lepas dari namanya sahabat karena seorang sahabat mengerti dan mau berbagi dikala kita suka maupun duka, Okelah langsung saja untuk membaca Cerpen Hemofilia karya sisca ainun nissa dibawah ini.

HEMOFILIA
Cerpen Sisca Ainun Nissa

Tau nggak apa itu HEMOFILIA? Hemofilia adalah salah satu jenis penyakit yang menyerang darah. Khususnya eritrosit atau sel darah merah. Hemofilia merupakan penyakit menurun yang menyebabkan darah sukar untuk membeku jika terjadi luka. Ada beberapa usaha untuk dapat mengatasi penyakit Hemofilia, antara lain yaitu mengkonsumsi makanan atau minuman yang sehat, menjaga berat tubuh jangan berlebihan, karena jika berat badan berlebihan dapat mengakibatkan pendarahan pada sendi-sendi di bagian kaki, dan berhati-hatilah dalam kehidupan sehari-hari untuk memperkecil resiko terluka.

Itu sekilas info tentng Hemofilia. Alena, sahabatku sengaja memberikannya padaku. Ia ingin agar aku lekas sembuh dari penyakit yang kuderita. Ya, aku selama ini menderita Hemofilia. Penyakit itu menurun dari Mamaku. Dan sekarang Mamaku sudah tiada gara-gara ganasnya penyakit itu. Mamaku meninggal gara-gara pendarahan hebat setelah mengalami kecelakaan yang dahsyat semasa aku umur 9 tahun.

Oh, ya. Sampai lupa, kenalin aku Zeffana Asenna Putri. Aku biasa dipanggil Senna. Saat ini aku duduk di kelas dua SMP, tepatnya di kelas VIII F. Aku terlahir di antara keluarga yang bisa dibilang mampu, bahkan cukup mampu. Papaku bekerja sebagai direktur sebuah perusahaan yang ternama di kotaku. Sehingga Papa sibuk sekali dengan kariernya. Malah, setelah kepergian Mama aku sering di rumah hanya bersama kakakku, Kak Gabriel dan pembantu di rumahku, Bi Husnah.

Kak Gabriel adalah kakak yang sempurna bagiku. Perhatiannya seakan-akan lebih besar daripada perhatian papa. Aku mau kemana di anterin, mau begini di turutin. Tapi entah mengapa, akhir-akhir ini sifat over protective Kak Gabriel membuatku risih. Kadang-kadang juga aku berpikir, sebenarnya Kak Gabriel itu kakakku apa bodyguardku sih?

Ya, sifat Kak Gabriel seperti itu gara-gara mandat papa. Papa takut kalau aku akan dapat nasib seperti mama, nasib yang buruk gara-gara Hemofilia. Tapi inilah hidupku, aku tak akan mampu menolak atau membelokkan takdir hidupku. Seperti apa yang tersurat dalam rukun iman di dalam Islam. Rukun iman yang keenam, yaitu iman pada takdir baik dan takdir buruk. Aku percaya Tuhan menggariskan yang terbaik dalam perjalanan hidupku.
****

Kubuka mataku untuk menyambut indahnya Minggu pagi. Kutatap jendela yang menghadap ke arah mentari. Sinarnya menembus celah ventilasi. Bahkan mampu merambat lurus menerjang kaca jendela. Berat rasanya ku meninggalkan tempat tidurku yang berantakan itu. Tapi Kak Gabriel sudah mengetuk pintu kamarku berulang ulang. Terpaksa aku meninggalkan kamarku dengan langkah yang berat.

“Kak, aku masih ngantuk.” Ucapku dengan mengusap sepasang mataku.
“Cepetan mandi! Lalu sarapan. Udah di tunggu sama Alena.” Ucap Kak Gabriel.
“Asstafirullahal’adzim. Aku lupa kalau aku ada janji mau nglukis bareng sama Alena.”
“Makannya, cepetan gi sana mandi!”
“Kak...”
“Apaan lagi, Senna?”
“Papa mana?”
“Udah berangkat dari tadi setelah Subuh. Kamu belum bangun kan?”
“Papa sibuk terus ya kak? Udah pulangnya malam, berangkatnya pagi-pagi. Huft.”
“Udah. Kamu mandi aja! Kasian Alena nunggunya kelamaan.”
“Sip.”
“Hati-hati, jangan sampai jatuh.”
“Baik, Kak Gabriel sayang.”

Setelah aku persiapkan pakaian aku bergegas menuju kamar mandi. Bagian yang ini aku SENSOR ya? Nggak usah di ceritain.

Badanku udah wangi dan bersih. Aku menemui Alena yang sejak tadi menungguku di ruang tamu. Wajahnya yang cantik menyambutku dengan senyum. Meski aku tahu, tersirat perasaan jengkel di dalam hatinya kerena ketelatanku.

“Len, sorry. I’m over sleep.” Ucapku dengan guratan senyum malu.
“Ah, kamu. Kaya’ lagu wajib aja, di abadikan terus.”
“Kamu Len, bisa aja. Aku yakin kamu belum sarapan kan? Ayo sarapan bareng!”
“Tebakan kamu meleset jauh. Aku udah kenyang, malah yang bantu persiapan sarapan itu aku sendiri.”
“Masa’ sih? Nggak yakin aku kalau seorang Alena bisa masak.”
“Emang nggak bisa. Kan aku bantu nyicipin doank!”
“Ah, yaudah aku sarapan dulu. Ikut nggak?”
“Nggak usah. Aku tunggu di sini aja!”
“Ukay.”

Aku berlalu meninggalkan Alena. Kak Gabriel sudah duduk manis di kursi ruang makan menungguku. Aku tersenyum ramah, dan kemudian makan makanan sehat yang di buat Bi Husnah. Nasi dengan lauk ikan laut dan sayur sayuran segar.

Setelah semua selesai, aku pergi naik sepeda kesayanganku menuju tanah lapang. Itu target pertama dan satu-satunya sebagai objek lukisanku nanti. Semua perlengkapan melukis sudah siap. Inspirasi sudah melekat di pikiranku sejak tadi malam. Dan kini saatnya aku menuangkan inspirasiku di atas kanvas.
“Len, aku boleh nggak minta pendapatmu?”
“Tentu donk, Sen. Apasih yang nggak untuk seorang sahabat? Nungguin mandi sama sarapan aja oke.”
“Kamu nyindir ah, Len?”
“Sorry bos. Emang mau minta pendapat tentang apa?”
“Gimana kalau aku ikut extrakulikuler bulutangkis di sekolah? Biar aku bisa mewakili sekolah kaya’ kamu dan Kak Gabriel dulu.”
“Kamu yakin, Sen? Lantas, bagaimana dengan...”
“Hemofilia yang aku derita? Aku akan menjaga diri dengan baik deh, Len. Aku janji.”
“Sen, menurutku sebaiknya jangan. Aku berkata ini karena aku sayang sama kamu. Aku tak mau sahabat sebaik kamu kenapa-napa.”
“Len, tapi tanpa olahraga berat badanku tak akan terkontrol. Dan bila aku over weight itu juga akan membahayakanku, akan menyebabkan pendarahan pada sendi-sendi di bagian kaki. Aku tahu itu dari dari artikel yang kamu bawa kemarin.”
“Ya, aku tahu. Tapi nggak harus ikut bulutangkis kan? Itu nggak mudah Sen. Dan resiko untuk terjatuh sangat besar.”
“Yah, andai...”
“Ingat janjimu, Sen!”
“Aku ingat. Aku berjaji aku tak akan mengeluh. Baiklah.”
“Udah sampai. Let’s go!”
****

Keinginanku untuk ikut extrakulikuler bulutangkis seakan-akan tak terbendung. Tak bisa di elakkan lagi. Aku sudah tertarik dari dulu, tapi aku baru berani mengutarakannya. Karena aku sadar Hemofilia seakan-akan merenggut cita dan masa depanku. Bagaimana reaksi Kak Gabriel jika dia tahu kalau aku ingin seperti dirinya? Akankah dia bangga ataukah dia takut seperti apa yang terjadi pada Alena? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Pagi yang indah di sekolah. Angin semilir pagi benar-benar membuat bulu romaku merinding. Terpaan angin sepoi-sepoi yang menghantam ranting-ranting kering, membuatnya satu demi satu jatuh ke tanah. Hal itu mengiringi kedatangan Alena. Senyumnya yang khas menyapaku seperti biasanya.

Tapi entah mengapa, kehadiran Alena pagi ini membuat diriku aneh. Akankah pendapat Alena kemaren yang mebuatku jadi seperti ini? Oh, aku harap jangan. Aku tak ingin membenci sahabatku hanya gara gara egoku sendiri. Tapi, setan masih berbisik padaku, memberikan sugesti-sugesti jahat yang membuat aku benci Alena.

“Eh,Senna. Kok sendiri sih? Mana Alena?” ucap Revita, salah satu anak ternama di sekolahku.
“Hm, ada di kelas. Kenapa Rev?”
“Sorry ya. Kemaren aku nggak sengaja buntutin kamu dan Alena waktu kamu mau ke tanah lapang. Dan aku dengar semua perbincanganmu dengan Alena. Maaf ya?”
“Tak apa Rev, namanya juga nggak sengaja.”
“Menurut pendapatku apa yang kamu lakukan itu sudah benar. Seharusanya kalau Alena sahabat yang baik, ia mendukung apa yang kamu lakukan. Bukan malah mengekangnya.”
“Tapi, aku rasa yang dikatakan Alena kemarin demi kebaikanku, Rev.”
“Aku rasa tak seprti itu. Ia tak ingin kamu ikut, karena ia tak ingin kamu jadi saingannya kelak.”
“Tapi, aku kan nggak sepintar Alena. Jadi mana mungkin Alena berpikir seperti itu.”
“Apasih yang nggak mungkin di dunia ini, Sen?” ucap Revita dengan ulasan senyum. “Ayo ikut aku sekarang, Sen!”
“Kemana?”
“Ayo ikut saja.”

Aku turuti saja apa permintaan Revita. Revita terkenal karena kekayaan orangtuanya, keelokan parasnya, dan kepintarannya dalam bergaul. Pantas aja banyak anak cowok yang jatuh hati pada Revita. Sungguh, sebuah ciptaan yang hampir sempurna.

Dibawa kemana aku? Ya Tuhan. Ternyata Revita mendaftarkanku untut ikut extrakulikuler bulutangkis. Aku nggak nyangka Revita akan sebaik ini padaku. Tapi, gimana dengan Kak Gabriel? Ah, cuek aja. Penting aku happy. Makasih Revita.
****

Sejak kejadian itu, aku jadi lebih akrab dengan Revita. Dan tak jarang aku bertengkar dengan Alena serta Kak Gabriel. Mereka masih saja menentang keras kemauanku.

“Sen, kakak sayang sama kamu. Kakak nggak ingin kamu kenapa-napa.” Ucap Kak Gabriel dengan nada sungguh-sungguh.
“Kak, Senna bukan anak kecil lagi yang harus selalu nurut dengan kemauan kakak. Kak, aku punya cita dan impian. Kakak, seharusnya bangga punya adik yang punya tekad kuat untuk meraih cita-citanya. Tapi apa dengan kakak? Aku ingin seperti kakak. Waktu SMP dulu, kakak pernah sampai ke tingkat provinsi kan? Aku juga ingin.”
“Tapi, kondisi tubuhmu tidak memungkinkan, Senna.”
“Ah, persetan apa itu Hemofilia. Aku tak perduli.”
“Senn...”

Aku pergi tanpa menghiraukan panggilan Kak Gabriel, sialnya di saat aku berlari menghindar dari Kak Gabriel, aku menabrak Alena. Lepas dari mulut buaya di makan harimau. Sial sial...

“Sen.” Sapa Alena dengan senyum.
“Tak usah kau sapa dan tebar senyummu. Karena kau bukan sahabatku lagi.”

Setelah mengucap kata-kata tersebut aku pergi meninggalkan Alena. Benar-benar membuatku jengkel. Minggu pagi yang biasanya menyenangkan kini malah menjengkelkan. Kenapa juga Alena main kerumahku. Ah, bajingan.
****

Moment yang aku tunggu kini tiba juga. Aku sekarang lagi bertanding dengan anak SMP lain. Oh, perasaan di hatiku bercampur aduk. Perasaan senang dan gelisah. Anak SMP Nusa Harapan yang menjadi musuh bebuyutan sekolahku kini ada di hadapanku. Oh, aku semakin khawatir.

Aku tengok keadaan sekeliling. Ternyata Alena dan Kak Gabriel juga ada di sini. Mau apa mereka? Pasti mereka aku menghinaku kalau aku kalah. Tak peduli, inilah aku yang maju dengan segala kelebihanku.

Aku mulai mengayunkan raket yang aku pegang erat di tangan kanan. Cock yang membumbung tinggi ku tangkis dengan sekuat tenaga. Dan akhirnya jatuh di area lawan. Hore! Satu point untukku. Hal itu berulang berkali-kali hingga selisih scors mencapai 7 point.

Ketika aku akan mendaratkan smashku untuk yang kesekian kalinya, ternyata tangkisanku meleset. Dan cocknya jatuh tepat di depan kakiku. Aku tak mengetahuinya, sehingga aku tersandung kok tersebut. Lututku jatuh ke lapangan. “Aduh.” Aku menjerit sekali. Tapi, luka kecil di lututku menyebabkan pendarahan hebat. Banyak orang datang mengerumiku.

Aku melihat Alena dan Kak Gabriel, mereka terlihat buram, buram dan akhirnya gelap gulita. Aku tak sadarkan diri.
****

Aku membuka mata perlahan. Oh, suasananya putih semua. “Dimana aku?” ucapku dalam hati. “Jangan, aku belum pengen mati.” Ucapku lantang. Tapi aku belum tahu aku ada dimana. Kulihat bayang-bayang remang berwarna hitam. “Malaikat?” pekikku tajam. “Jangan panggil aku, aku masih ingin di dunia.”

“Sen, sadar! Ini Kakak. Sen.” Ucap bayang-bayang hitam itu.

Aku membuka mataku lebih lebar lagi. Aku tatap tajam bayang-bayang hitam tersebut. Ternyata benar itu Kak Gabriel. Di sampingnya juga berdiri laki-laki separuh baya dengan kumis tipis. Setelah kucermati lagi itu papa.

“Aku ada dimana?”
“Kamu di rumah sakit, Sen. Kamu baru sadar dari komamu yang sudah hampir seminggu.”

Aku sedikit lega. Ternyata aku masih hidup. Andaikan aku mati, gimana kelanjutannya ya? HANYA TUHAN YANG TAHU.

“Papa? Sena rindu papa.”
“Iya, sayang. Papa temani kamu disini. Papa nggak akan kemana-mana. Papa janji, sayang.”
“Terimakasih, Pa.” Kemudian aku teringat tentang pertandingan bulutangkis. “Revita mana? Aku mau minta maaf sama dia.”
“Kamu salah apa, Sen?” tanya Kak Gabriel ingin tahu.
“Senna nggak bisa memenangkan pertandingan bulutangkis.”
“Sen, asal kamu tahu ya? Revita itu nggak benar-benar baik sama kamu. Ia hanya ingin mencelakakanmu.”
“Apa buktinya kak?”
“Selama kamu sakit, apa pernah Revita menjengukmu? Tak pernah, Sen. Dan kakak berharap kamu jangan terlalu dekat dengan Revita.”
“Yang benar kak?”
“Ya. Untuk apa kakak berbohong?”
“Kak, begitu pula Alena. Dia tak menjengukku kan?”
“Kamu jangan bilang seperti itu, Sen. Alena tak hanya menjengukmu, ia malah...” ucapan Kak Gabriel terhenti.
“Malah apa?”
“Tak penting.”
****

Hangat mentari, panas membakar di siang yang terik di halaman sekolah. Tapi hatiku membeku kedinginan. Aku telah menjauh dari Alena, untuk berteman dengan Revita. Tapi setelah aku gagal, Revita malah menjauhiku. Aku merasa bersalah dengan Alena. Tapi rasa gengsi membuatku kalang kabut. Bahkan gara-gara aku jatuh kemarin, aku harus keluar dari extrakulikuler bulutangkis. Benar-benar hancur bertubi-tubi hidupku. Semua gara-gara Hemofilia. Oh, andai penyakit itu tak aku derita.

“Hai, Sen. Kok sendirian? Bisa aku temani?” ucap Alena dengan nada ramah.
“Tak usah. Pasti kamu senang kan? Hidupku sudah hancur? Tak ada lagi saingan untukmu. Sana pergi! Urus dirimu sendiri. Tak usah kau pedulikan aku lagi.”
“Sen, apa maksudmu? Aku benar-benar nggak tahu.”
“Ah, nggak usah sok suci kamu. Inikan yang kamu mau?”
“Sen, aku hanya ingin kamu senang.”
“You are not my best friend. Now and forever.” Ucapku sambil pergi meninggalkan Alena.

Jujur, sebenarnya aku merasa kasihan dengan Alena. Sahabat sebaik dia harus aku caci maki dengan kata-kata kotor seperti tadi. Kasalahan Alena tak sebanding dengan kabaikannya. Bagiku, Alena itu laksana malaikat. Tapi itu dulu.
****

Aku terdiam sendiri di kamarku yang tak asing dengan kata berantakan. Tiba-tiba sepasang tangan mengetuk pintu kamarku yang terbuat dari kayu. Aku membukanya tanpa melontarkan sepatah katapun.

“Di cariin Alena tuh, Sen.” Ucap Kak Gabriel dengan menatap tajam mataku.
“Ngapain tuh anak kesini. Mau cari masalah?”
“Sen, Alena itu anak yang baik. Ia tulus berteman sama kamu.”
“Cukup-cukup! Sebenarnya, adik kakak itu siapa sih? Aku apa Alena? Perasaan, kakak belain Alena terus.”
“Sen, kakak belain yang benar.”
“Terserah. Aku benci Alena. Dia merebut semuanya dariku. Sampai kakakku sendiri di rebut sama dia. Alena selalu benar dan aku selalu salah. Iya kan kak? Jujur aja!”
“Sen!” nada bicara Kak Gabriel mulai meninggi. “Asal kamu tahu, sebagian darah yang ada di tubuh kamu itu milik Alena. Dan, bila tak ada Alena mungkin kamu sudah pergi dari dunia ini.”
“Apa yang kakak bilang itu benar adanya?”
“Ya.”

Aku berlari menemui Alena yang ternyata sudah duduk di sofa ruang tamu. Aku memeluknya dengan deraian air mata. Aku tak sanggup memperlihatkan wajahku yang hina. Yang brutal karena di telan rasa iri dan ego yang individualis.

“Len, maafkan aku. Aku memang sahabat yang tak tahu terimakasih. Sahabat yang buruk. Sahabat yang hina. Tapi kenapa kamu masih mau bersahabat denganku? Apa untungnya Len?”
“Udah, Sen. Cukup! Jangan kau perlihatkan lagi air matamu di hadapanku. Tatap mataku! Lihat! Inilah persahabatan. Persahabatan yang baik tak memperdulikan untung rugi. Karena persahabatan itu di ikat dengan rasa kekeluargaan dan solidaritas.”
“Seandainya aku bisa jadi sepertimu?”
“Tak usah kau berpikir seperti itu. Karena aku suka kamu apa adanya. Senna yang ceria dan terus menggapai cita.”
“Give applause!” ucap Kak Gabriel memecah suasana haru. “Len, sorry aku harus membeberkan rahasia kita.”
“Kak Gabriel. Jadi Senna sudah tahu tahu kalau yang mendonorkan darah untuknya itu aku?”
“Ya. Sorry Len. Abisnya Senna keterlaluan banget.”
“Tak apa Kak. Yang penting semua tertawa seperti semula.”
“Ya terimakasih untuk Kak Gabriel, kakakku yang hampir sempurna. Dan Alena, adalah sahabat yang hampir sempurna juga.” Ucapku malu.
“Lho, kok hampir sempurna semua?” bantah Alena.
“Karena kesempurnaan milik Alloh semata.”

Hahahaha. Kami tertawa bersama. Emang hidup ini indah. Dan aku baru menyadarinya. Karena egoku sendiri semua jadi berantakan. Tak perlu kita jadi orang lain. Karena memang manusia diciptakan berbeda. Kenapa? Karena dengan perbedaan tersebut kita bisa saling memahami dan saling belajar.

Bener nggak? Pasti donk! Senna gitu lho!!!!!!!!!!
****

Baca Juga Cerpen Persahabatan yang lainnya.

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More